Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2012

HUJAN

Sudah dua hari ini hujan menguyur kota ini dengan tanpa henti,membuatku malas untuk melakukan segala aktivitas mungkin hujan akan terus seperti ini selama dua bulan ini,ah...bagaimana saya harus mencari nafkah kalau keadaan seperti ini?pikirku dalam hati,sedangkan hidup mesti harus berjalan ,kemarin aku rasakan sungguh susah mencari sewa dalam rintik hujan,maasih aku tertegun di serambi rumah dan tampak anak kecil yang riang bermain dengan percikan air hujan, seperti dia tak pernah memperdulikan kalo dia kedinginan sungguh enak jadi anak-anak yang tek pernah memikirkan bagaimana mereka mekan dan cari uang,seperti kala kecilku dulu.

hujan yang tak kunjung berhenti,pasti akan menjadi malapetaka yang datang karena aku yakin kota di ujung sana akan menerima air hujan ini melebihi dari batas  wajar,alhasil banjir yang akan mereka terima,tapi kalau di pikir pikir memang salah manusianya sendiri,banyak hutan yang kini menjadi lahan pemukiman entah kemana sekarang pohon pohon yang dulu pernah ada di sekitar daerahku ini,belum lagi sampah yang penuh menjejali sungai sungai dan got got yang membuat mampatnya air hingga meluap sampai kejalan raya,resapan tanah kini tak seperti dulu lagi,yang tampak sekarang adalah cor blok dan ruko ruko yang di bangun di tepi jalan untuk kehidupan atau memperkaya sebelah pihak.
kini tak lagi nampak kujumpai jalan jalan yan penuh kerindangan ,mungkin ini memang sudah jalannya untuk menuju kehancuran di bumi ini.hujan kapan engkau akan berhenti?agar aku bisa lagi untuk mencari sesuap nasi.... 

Kamis, 12 Januari 2012

SEMILIR ANGIN JANUARI

Pagi ini masih sama seperti pagi -pagi yang kemarin , mentari yang malu-malu dalam menampakan batang hidungnya,dan di temani rintik hujan yang sedari fajar tadi engan untuk berhenti,pagi ini tak ada aktivitas berarti yang aku lakukan ,ditemani secangkir kopi hitam pekat serta rokok filter,aku kesana kemari di dunia maya ini,mencari cari hal yang tak pasti,kupandangi jam dinding yang tak pernah berhenti menghitung detik demi detik hingga terkumpul jam demi jam,trus hari ke hari serasa panjang langkah ini...semilir angin yang aku rasakan seperti mengingatkan aku akan kenangan di masalaluku,memory yang dulu sewaktu aku belum mengenalmu...sewaktu aku masih mencari jati diri,aku ingat saat itu aku duduk di bongkahan batu besar yang tegar tertanam di pinggir jurang menatap jauh kedalam relung hati hinga ku terbenam dalam rangkaian melodi alam yang asri.tersentak aku sadar dari lamunan akan nurani dan emosi yang kini ada di benak dan pikiranku,membuat ku tersadar aku harus bangkit untuk memenuhi segala tanggung jawabku sebagai seorang suami,sejenak aku lihat si kecil melintas di hadapanku dengan sandal ci cit nya yang meraung raung di telingaku,aku harus bangun dari mimpi indah ini aku harus segera mencari uang agar aku bisa terus hidup di kota ini...sulit memang untuk memahami yang terjadi hari kemarin hari ini dan esok hari....hanya ku yakin Engkau selalu bersamaku,membimbingku,menuntunku...dan memberiku segala semua yang aku ingin dan aku butuhkan....
[sebuah catatan kecil di pagi hari ]

Selasa, 10 Januari 2012

CINTA YANG HILANG



tersenyumlah saat kau mengingatku
karena saat itu aku sangat merindukanmu
dan menangislah saat kau merindukanku
karena saat itu aku tak berada disampingmu
tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
karena saat itu aku akan terasa ada didekatmu
karena aku telah berada dihatimu untuk selamanya

tak ada yang tersisa lagi untukku
selain kenangan – kenangan yang indah bersamamu
mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
mata indah yang dahulu adalah milikku
kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
hati cinta dan rinduku adalah milikmu

cintamu takkan pernah membebaskanku
bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
saat sayap – sayapku telah patah karenamu
cintamu akan tetap tinggal bersamaku
hingga akhir hayatku dan setelah kematian
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi
betapapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
yang tengah menghidupkanku sinar redupku
namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu
karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
kau takkan pernah terganti
bagai pecahan logam mengekalkan
kesunyian kesendirian dan kesedihanku
kini aku telah kehilanganmu
hilang semua janji semua mimpi -  mimpi indah
hancur hati ini melihat semua ini
lenyap telah lenyap kebahagiaan dihati
ku hanya bisa menangisi semua ini
hancur hati ini melihat kau telah pergi
langit menjadi gelap berkelabu
menyelimuti hatiku
mengubah seluruh hidupku
mengapa semua jadi begini perpisahan yang terjadi
diantara kita berdua
ku akan menanti sebuah keajaiban
yang membuat kita bisa bersama kembali

Kamis, 05 Januari 2012

KOTA KELAMIN

Cerpen Mariana Amiruddin
Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur.

Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami.

Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang.

Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya.

Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah.

Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari.

Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berenda-renda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari.

Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan benda-benda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia.

Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tiba-tiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi.

Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.
***
Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding.

Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri.

Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku.

Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor.

Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap.

Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin.

Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini?

Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megap-megap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata.

Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu.

Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu.

Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku.
Di sini!
Kaukah itu?

Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang.

Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. Kini kami bersenggama di tengah kota. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong. Ia menggigit seluruh tubuhku. Seperti anak anjing, aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. Aku mengerti sekarang, kelamin pun punya hati. ***

untuk Hudan Hidayat yang ’takkan pernah sembuh’
Jakarta, 1 September 2005


Tentang Pengarang

Mariana Amiruddin, Magister Humaniora Kajian Wanita Universitas Indonesia. Kini bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan
dan Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan. Bukunya antara lain Perempuan Menolak Tabu, Beyond Feminist dan novel berjudul Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat.

Selasa, 03 Januari 2012

SENJA KELAM DIBUKIT PILU

Mata ku selalu terpenjamkan untuk sesaat saat matahari mulai merambat di peraduan,rona siluet yang dihasilkan ,aku teringat akan keadaanku di waktu itu dimana aku berdiri menatapmu namun seolah engkau engan untuk memperdulikanku suara gemuruh ombak laksana guntur yang memperingatkan ku untuk tak memeluknya,desir angin semilir yang datang menderaku hinga aku tersungkur di kaki langitmu......sungguh aku tak mengerti mengapa Engkau beri kami kesempatan untuk itu ?mengapa hanya itu yang ada di otakku, lemah memang iman ini aku akui itu hal yang paling kubenci dari diri ini adalah godaan untuk mencicipimu,apa yang kamu punya?apa yang bisa 


kamu banggakan? dari aku atau kamu ?yang aku tau semuanya kenikmatan itu hanyalah fatamorgana dan kini sesal ang menghingapi di sepanjang hidupku.sosok yang selalu mendampingiku selalu berkata dengan penuh nasehat dan selalu kuabaikan nasehat nasehat yang keluar dari bibir mungilnya,ku sempat berpikir apa yang aku cari dalam dirinya?bukankah mereka sama?sama sama perempuan yang menyayangiku?
malam telah  larut samar aku masih bisa mendengar riuhnya ombak yang silih berganti bersahutan bak melodi malam yang menjemukan,tak pernah aku dengar suara binatang malam yang sarat selalu kudengar saat aku terbaring di istanaku,yah malam itu aku tak mendengar telingaku tuli mataku buta dan hanya bisikan bisikannya yang aku dengar,sesaat kadang aku bisa terlelap dengan hati yang riang meski dihati yang terdalam penuh dengan kericuhan tak pernah ada bukti otentik yang menunjukan bahwa aku bersama dia,semua itu hanya ada di dalam angan kita berdua,seandainya aku mengerti apa itu arti untuk saling memiliki dan saling menjaga dalam hubungan kita, mungkin semua itu tak akan terjadi.
Pelan tapi pasti waktu berjalan dengan cepat ,bagai diburu bencana aku bergegas beranjak dari tempat itu tak ada yang tersisa disitu hanyalah kenangan buruk yang tak terlupakan meski jujur aku menikmatinya,kini tak ada harapan yang bisa aku wujudkan,mimpi mimpi tingallah mimpi yang entah kapan akan terwujud,luka dihatinya tak akan pernah bisa sembuh untuk jangka waktu yang lama dan hanya akan menjadi duri sepanjang langkah kita,jalan ini masih panjang sayang ....biarkan kita memilih atas jalan mana yang akan kita tempuh.jangan pernah kita tengok lagi masalalu yang pernah meruntuhkan pondasi pondasi kepercayaan diantara kita,aku mulai menyusun ulang puing puing yang telah engkau luluh lantakkan agar menjadi sebuah bangunan yang kokoh untuk  di terpa sang badai,sungguh kini hanya sesal yang ada di hati....

[ fiksi ]